mnemosyne.ofyou

1.5M ratings
277k ratings

See, that’s what the app is perfect for.

Sounds perfect Wahhhh, I don’t wanna
fitryharahap
fitryharahap

Jaga Dirimu, Ya

Aku selalu percaya bahwa kata-kata punya nyawa. Beberapa dari mereka lahir untuk menjadi perintah, sebagian lagi sekadar basa-basi yang terlontar tanpa benar-benar dipikirkan. Tapi ada juga kata-kata yang diam-diam membawa beban, yang saat diucapkan, terasa seperti tangan yang menggenggam erat sebelum akhirnya harus dilepaskan.

"Jaga dirimu, ya."

Kalimat itu sederhana, tapi punya banyak cabang makna yang bersembunyi di baliknya. Orang-orang sering mengira itu hanya tentang menjaga tubuh agar tidak sakit, agar pulang dalam keadaan utuh. Padahal, lebih dari itu, kata-kata itu juga menyelipkan harapan agar kita tetap waras di tengah dunia yang terus mengikis bagian-bagian dari diri kita.

Aku pernah mendengar kalimat itu diucapkan dengan suara yang nyaris bergetar, seolah pengucapnya tahu bahwa setelah ini, mungkin tak ada lagi kesempatan untuk mengatakannya. Pernah juga kudengar ia dilontarkan dengan nada santai, tapi tatapan mata si pemilik suara diam-diam menyimpan kekhawatiran yang sulit disembunyikan.

"Jaga dirimu, ya."

Itu berarti: jangan biarkan kepalamu terlalu penuh oleh pikiran yang tak bisa kau redakan. Itu berarti: jangan memaksa hatimu tetap berdiri ketika ia sudah lelah berusaha. Itu berarti: jika dunia terasa terlalu keras, setidaknya jadilah lembut pada dirimu sendiri.

Karena kita tak hanya bisa terluka oleh goresan di kulit, tetapi juga oleh kata-kata yang tak sempat dibalas, oleh kepergian yang tak dijelaskan, oleh rasa sesak yang tak bisa diceritakan kepada siapa pun.

Maka, saat seseorang berkata, "Jaga dirimu, ya," percaya atau tidak, itu adalah salah satu bentuk cinta paling sederhana yang bisa diberikan manusia kepada manusia lainnya.

wblbhr
wblbhr

Untukmu, yang Tengah Belajar Melepaskan

Aku melihatmu tak hanya dengan mata, tapi juga dengan seluruh pemahaman yang kupunya. Aku melihat bagaimana langkahmu kadang goyah, bagaimana hatimu berkali-kali terlipat dalam ragu. Aku melihat bagaimana kau memegang luka itu dengan gemetar, seperti menimbang-nimbang apakah harus kau genggam lebih erat atau lepaskan.

Aku ingin kau tahu, tak ada yang salah dalam mencintai. Hanya memang ada yang perlu diperbaiki dalam cara kita bertahan. Dan kau kini sedang mengajarkan dirimu sendiri untuk bertahan dengan cara yang lebih sehat, mungkin juga lebih kuat. Aku menyaksikan itu dan aku bangga padamu.

Kesedihan yang kau rasakan bukan tanda kelemahanmu, tetapi bukti betapa besar hatimu. Kau hanya perlu mengingat bahwa cinta yang layak untukmu tidak akan membuatmu merasa kecil di dalamnya.

Jangan terburu-buru memadamkan luka itu. Biarkan ia membimbingmu pada pemahaman yang lebih dalam tentang dirimu sendiri. Aku takkan meminta agar kau segera baik-baik saja. Aku hanya ingin kau tahu bahwa kau berhak menjadi lebih utuh, tanpa perlu mengorbankan dirimu untuk orang yang tak tahu cara mencintai dengan benar.

Jika kau ragu, tengoklah ke dalam dirimu. Di sana ada jawaban, ada cahaya, ada keteguhan yang tengah bertumbuh. Dan saat kau siap, kau akan berjalan tanpa menoleh lagi, kau akan memahami bahwa dirimu pantas melangkah lebih jauh.

Aku di sini, mendukungmu dalam diam, mengagumi kekuatan yang mungkin belum kau sadari sepenuhnya. Dan kapan pun kau butuh diingatkan bahwa kau tak sendiri dalam perjalanan ini, tengoklah ke arahku. Aku tetap dan selalu di sini, menyaksikanmu tumbuh.

journal-rasa
journal-rasa

Salah satu hal penting yang kupelajari dari usiaku saat ini:

  • Kalau kamu punya cita-cita dan impian, berusahalah mewujudkannya sendiri!
  • Karena setiap orang memiliki impian dan tujuan hidupnya masing-masing.
  • Jangan berharap pasanganmu akan mewujudkan impian dan cita-citamu! 😭🫵🏻 Mereka punya impiannya sendiri!
  • Apalagi berharap pada anak, menantu, atau cucu! 😭Mereka punya kehidupannya masing-masing!

Jangan biasakan berharap pada orang lain! Atau kamu akan kecewa! Karena satu-satunya yang pantas jadi sandaran dan harapan, ya cuma Tuhan.

Orang lain mungkin berjalan bersamamu, tapi tidak akan ada seorang pun yang berjalan untukmu.

Pada akhirnya setiap orang akan kembali pada kesendirian, dimana hanya ada dia dan Tuhan. Jika tidak di dunia, ya minimal di hari akhir nanti.

Makanya mending kita usahakan kesendirian itu di dunia aja ya, biar di hari akhir nanti saat bertemu Tuhan, kita sudah mengenal-Nya, dan Dia pun mengenal kita. 💟

nonaabuabu
nonaabuabu

Mengapa Abu-abu

aku menyelesaikan cerita tentang kau hari ini, dan aku terpaksa berkelana ke masa lalu, menyambangi laman mayamu dan menemui ingatan-ingatan yang pernah kupaksa tiada, tentang kenapa kau yang hatiku pilih.

sungguh aku bisa beralasan sekarang, jika pun tidak harus dengan puisi yang sering kali aku manipulasi. tapi untuk apa kutuangkan, toh kita sudah tak pernah lagi disinggung apa-apa.

terlepas dari senyum dan tawa yang kita bagi, mimpi-mimpi yang kita ukir, sebagai tunggal kau memang luar biasa. sialnya, standarku sekarang gila-gilaan sebab kau yang pernah kuinginkan. rasanya aku mempecundangi diri sendiri jika tak kutemui yang seperti kau. tapi seperti apa dirimu, tak akan pernah sama dengan seperti orang lain.

sekarang aku tersenyum sendiri, lalu melompat aneh dengan gejolak ingatan tentang kita. tapi itu membuat aku mengerti, bagaimana perasaan damai dari cinta yang tak berakhir bersama.

aku tak mendoakanmu lagi, sungguh tidak. meski aku pernah berpikir dengan aneh bahwa kau akan kucintai selamanya, barangkali jika kenangan adalah kau, aku menepati janji itu. aku masih mencintai kenangan tentang kita. langit barat di tembalang dan pendar senja di jepara, aku mengingat setiap bagiannya seolah waktu belum melampaui kita.

kau mungkin boleh berbangga sekarang, sebab kelabu matamu adalah alasan aku menjadi nonaabuabu.

manifestasi-rasa
manifestasi-rasa

Sehabis tarawih tadi aku minum kopi. Keputusan yg agak nganu karena ternyata sengaruh itu. Jam 11 selepas tadarus udh niat tidur biar besok fresh, berakhir dengan setengah jam gelundang gelundung lalu buka tumblr. Selain karena kopi, sepertinya kepalaku sedang riuh.

Malam ini aku berpikir banyak dan menyadari sesuatu. Sesuatu yg sesungguhnya sudah kuyakini pula sejak lama. Bahwa hidup itu sawang sinawang. Malam ini menulis ini karena di kepala riuh dengan pesan-pesan curhatan dr teman-teman ttg masalah yg menimpa, juga setelah melihat story teman SMP yg bilang kalau masalahnya kini bikin dia pengen m a t i aja. Padahal dulu aku mengidolakannya, karena kecerdasannya. Karena cepat dan lekatnya ia dalam menghafal Al-Qur'an. Who knows, beberapa tahun kemudian dia depresi, menutup diri dr banyak hal, dan berjuang membenahi dirinya.

Satu curhatan dr temanku blm aku balas sejak kemarin. Kata dia, gapapa aku balas kapan saja, seluangnya. Tapi terlepas dr luang atau tidak, membaca ceritanya bikin aku termangu lama dan menanyakan banyak hal ttg hidup dn hal-hal yg berjalan bersamanya.

Urip iki sawang sinawang. Kita ngga tau seberapa dalam luka yang disembunyikan oleh seseorang yg nampaknya senyum tak pernah luntur dari wajahnya. Kita ngga akan tau seberapa besar trauma yang sedang dipulihkan oleh seseorang yang rasanya sakinah mawadah warahmah selalu. Kita ngga akan pernah benar-benar tau bagaimana seseorang sedang berjuang untuk menyalakan lilin hidupnya supaya tetap terjaga. Setidaknya, mencari alasan untuk tetap hidup. We never know.

Dari sini, rasanya ngga pantas utk membatin dan komentarin kehidupan seseorang bagaimanapun kelihatannya. Iya, karena kita ngga pernah benar-benar tau. Bahkan terkadang pada sahabat karib kita sendiri.

Bagi sebagian orang, hidup ini sederhana (bersyukurlah yg merasa demikian). Untuk sebagian lainnya, hidup ini teramat sangat kompleks. Semoga Allah selalu lapangkan hati kita, ya. Untuk memiliki penerimaan yg luas terhadap hidup ini :')

Lekaslah pulih, batin yang terluka. Lekaslah menggelora, lilin kehidupan yang hampir redup itu. May this month heal our soul.

ffahraa
ffahraa

05:28

Kadangkala, kita merasa paling kuat saat kita merasa paling rapuh. Kita mencari kebahagiaan, tapi sering kali itu datang ketika kita berhenti mencarinya. Hidup mengajarkan kita bahwa kadang, dalam ketidaktahuan dan ketidaksempurnaan, kita justru menemukan kedamaian. Kita tak perlu mengendalikan semuanya, karena kebebasan sering datang dari penerimaan, bukan penolakan.

Begitulah paradoks hidup: hal-hal yang kita takutkan bisa jadi justru yang menguatkan kita.

@ffahraa, Hari kelima dari 28 hari berprosa